Articles
Ini Beda Stroke, Serangan Jantung, dan Henti Jantung, Jangan Salah!
Stroke, serangan jantung, dan henti jantung adalah tiga kondisi medis yang kerap menimbulkan gejala serupa. Karena itu, sebagian individu mungkin kesulitan untuk membedakan stroke, serangan jantung, dan henti jantung. Pada dasarnya, beda stroke dan serangan jantung maupun henti jantung dapat dilihat melalui gejala-gejala yang lebih spesifik, seperti detak jantung serta kemampuan saraf tertentu, misalnya, saraf otot di area wajah.
Untuk memahami beda stroke serangan jantung, dan henti jantung selengkapnya, Anda dapat menyimak artikel berikut ini sampai tuntas.
Perbedaan Stroke, Serangan Jantung, dan Henti Jantung
Stroke, serangan jantung, dan henti jantung kerap membuat penderitanya mengalami penurunan kesadaran hingga pingsan. Meski begitu, perlu dipahami bahwa ketiga kondisi tersebut merupakan masalah kesehatan yang berbeda.
Pada dasarnya, stroke adalah kondisi ketika terdapat gangguan pada aliran darah di otak. Sementara itu, serangan jantung dan henti jantung secara garis besarnya merupakan kondisi yang dapat memengaruhi fungsi dan kerja jantung.
Lebih jelasnya, berikut adalah beberapa perbedaan stroke, serangan jantung, dan henti jantung yang perlu dipahami:
1 Penyebab
Perbedaan stroke dan serangan jantung maupun henti jantung yang pertama dapat dilihat dari penyebabnya. Stroke terjadi ketika suplai darah ke otak terhambat akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah di otak (stroke hemoragik).

Penyumbatan pada pembuluh darah di otak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya gangguan irama jantung seperti atrial fibrilasi atau karena adanya penyempitan pembuluh darah akibat plak (aterosklerosis). Sedangkan stroke hemoragik bisa dipicu oleh beberapa faktor, seperti tekanan darah tinggi, aneurisma otak (penggelembungan pembuluh darah otak), trauma otak, atau efek samping dari obat pengencer darah.
Sementara itu, serangan jantung (acute coronary syndrome) adalah gangguan jantung yang disebabkan oleh adanya penyumbatan arteri koroner (pembuluh darah jantung), sehingga dapat menghalangi aliran darah untuk mencapai jantung. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh aterosklerosis (penumpukan plak lemak trans, lemak jenuh, kolesterol LDL, dan zat-zat lainnya pada lapisan pembuluh darah arteri koroner).
Di sisi lain, henti jantung (cardiac arrest) merupakan kondisi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba akibat adanya gangguan sinyal listrik pada otot jantung. Kondisi ini kerap dipicu oleh aritmia (gangguan irama jantung). Adapun salah satu jenis aritmia yang terkait dengan henti jantung adalah fibrilasi ventrikel (gangguan sinyal listrik pada bilik atau ventrikel jantung).
Selain itu, henti jantung juga disebabkan oleh beberapa kondisi lainnya seperti penyakit jantung koroner, kardiomiopati, penyakit katup jantung, maupun penyebab selain masalah jantung seperti hipovolemia (kekurangan volume darah), hipoksia, asidosis, hipotermia, abnormalitas kadar elektrolit, trauma, dan lain-lain.

2 Gejala
Perbedaan antara stroke, serangan jantung, dan henti jantung selanjutnya terletak pada gejalanya. Pada tahap awal, gejala stroke dapat dideteksi melalui metode FAST, yaitu face drooping, arm weakness, speech difficulty, kemudian dilanjutkan dengan time to call ambulance jika menemukan gejala-gejala tersebut.
Berikut adalah penjelasan mengenai metode FAST selengkapnya.

- F (face drooping): Salah satu sisi wajah atau mulut terlihat tidak simetris/turun sebelah.
- A (arm weakness): Salah satu lengan melemah atau mati rasa maupun ketika kedua tangan diangkat, salah satu tangan akan tampak lemas dan turun terlebih dahulu dibandingkan dengan lengan lainnya. Selain lengan, kaki juga dapat mengalami kelemahan.
- S (speech difficulty): Kesulitan untuk berbicara, berbicara tidak jelas, atau bahkan tidak bisa berbicara sama sekali.
- T (time to call ambulance): Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera cari pertolongan medis untuk memperoleh penanganan yang tepat.
Sedangkan, serangan jantung dapat menimbulkan gejala berupa sensasi tidak nyaman, dada seperti tertekan benda berat, dan nyeri di bagian tengah atau kiri dada yang berlangsung selama beberapa menit. Sensasi tidak nyaman tersebut akan dirasakan semakin berat. Nyeri dada tersebut juga tidak menghilang meski dengan istirahat.
Selain itu, beberapa gejala lain serangan jantung adalah:
- Sesak napas
- Nyeri atau sensasi tidak nyaman menjalar dari dada ke salah satu atau kedua sisi lengan, punggung, leher, rahang, maupun perut
- Keringat dingin
- Mual
- Sakit kepala ringan
Sedangkan gejala utama henti jantung adalah pingsan secara tiba-tiba dan tidak merespons rangsangan tertentu, seperti sentuhan dari orang lain. Di samping itu, pada tahap awal, sebagian penderita kondisi ini mungkin dapat mengalami beberapa gejala, seperti:
- Pusing berputar
- Lemas
- Nyeri dada
- Sesak napas
- Jantung berdebar
3 Penanganan
Stroke dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan tertentu serta tindakan operasi. Selain itu, guna mengoptimalkan proses pemulihan, penderita stroke juga disarankan untuk menjalani serangkaian terapi stroke, seperti terapi okupasi, fisioterapi, dan lain sebagainya.
Sementara itu, pertolongan pertama serangan jantung adalah dengan segera membawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan penunjang seperti EKG atau pemeriksaan lainnya penegakkan diagnosis.
Setelah itu, dokter akan melakukan penanganan sesuai dengan jenis serangan jantung yang terjadi. Beberapa penanganan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
- Penggunaan obat-obatan untuk memulihkan aliran darah ke jantung.
- Pemasangan ring jantung untuk melebarkan pembuluh darah arteri yang menyempit.
- Operasi bypass jantung (CABG)

Sedangkan pada kasus henti jantung, penanganan utamanya adalah dengan melakukan RJP (resusitasi jantung paru) untuk mengembalikan kemampuan bernapas serta sirkulasi darah pasien. Segera panggil ambulans agar pasien dapat mendapatkan penanganan di rumah sakit.
Di sisi lain, perawatan lanjutan untuk henti jantung juga akan menggunakan beberapa tindakan medis, di antaranya:
- Penggunaan obat antiaritmia untuk menangani gangguan irama jantung.
- Pemasangan implan alat kejut jantung.
- Angioplasti untuk memperbaiki aliran darah menuju otot-otot jantung.
- Ablasi jantung, untuk menangani sinyal listrik abnormal yang memicu aritmia.
Artikel ini bersumber dari siloamhospitals.com
Download artikel tentang “Ini Beda Stroke, Serangan Jantung, dan Henti Jantung, Jangan Salah!“
[Marketing Communication LGI]


