HR Bulletin – LGI https://www.lgi.co.id/en a company of Hanwha Tue, 15 Nov 2016 01:38:05 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.4.14 https://www.lgi.co.id/uploads/2020/07/loogo512x512-150x150.jpg HR Bulletin – LGI https://www.lgi.co.id/en 32 32 Mengurus Hal yang Bisa Diurus https://www.lgi.co.id/en/mengurus-hal-yang-bisa-diurus/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=mengurus-hal-yang-bisa-diurus https://www.lgi.co.id/en/mengurus-hal-yang-bisa-diurus/#respond Tue, 27 Sep 2016 08:21:30 +0000 http://www.lippoinsurance.com/en/mengurus-hal-yang-bisa-diurus/ Posisi manajer kelas menengah memang sering terjepit. Dari atasan ada bahasa ‘instruksional’. Bahasa memerintah, optimis, dan melambung tinggi. Dari bawahan selalu ada bahasa ‘argumentatif’. Bahasa alasan, pesimis, penuh keberatan dan keluhan.

Posisi bumper ini membuat posisi manajer menengah menjadi posisi yang sulit dan makan hati. Ia harus bisa menerjemahkan bahasa instruksi dari atasan ke bawahan sedemikian hingga bawahan merasa ‘senang’ dengan instruksi itu. Sekaligus menerjemahkan keluhan bawahan ke atasan dengan bahasa yang sesuai, sehingga atasan tidak tersinggung dan melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi. Sulit kan?

Stephen R. Covey memperkenalkan sebuah istilah hebat yaitu ‘lingkar pengaruh’. Setiap orang punya lingkar pengaruh. Segala sesuatu yang ada di dalam lingkar pengaruh, dapat ia kontrol dan ia ubah. Misalnya: bagi seorang ayah, hal yang ada dalam lingkar pengaruh adalah istri, anak, pengeluaran, kapan bangun pagi, kapan tidur malam, dan seterusnya.

Sedangkan hal yang di luar pengaruh (disebut lingkar kepedulian), adalah hal yang tidak bisa dikontrol. Misalnya: bagi seorang ayah, di luar pengaruh seperti atasannya di kantor, kurs dolar yang turun naik, siapa orang tuanya, suku apa dia dilahirkan, dan seterusnya.

Orang yang efektif adalah orang yang tahu bahwa ia memperhatikan apakah hal yang ia tangani berada di dalam atau luar lingkar pengaruhnya. Bila di luar pengaruhnya, ia tidak akan ngotot untuk mengurusnya. Tapi di sisi lain, ia akan berusaha semakin lama semakin memperbesar lingkar pengaruhnya.

Ada sebuah cerita yang diceritakan oleh Stephen R. Covey dalam salah satu video seminarnya. Sangat bagus untuk dipelajari. Saya transkripkan untuk Anda.

Ada seorang pemimpin organisasi besar yang dikenal oleh Stephen R. Covey. CEO ini sangat dinamis, visioner. Sangat berbakat dan cerdas, serta berpandangan jauh ke depan. Ia bisa mengatasi berbagai masalah yang ada di dunia luar.

Tetapi gaya kepemimpinannya sangat mengatur dan diktator. Setiap orang di sekitarnya akan merasa jadi pesuruh. Seolah mereka tak bisa mengambil keputusan sendiri. Lakukan ini, lakukan itu, kerjakan ini, kerjakan itu.

Bawahan ini biasanya berkumpul di kantin, membicarakan keburukan sang pemimpin. Mereka bertukar cerita terbaru.

“Dengar, saya sedang mengerjakan sesuatu, si dia datang ke departemen kami, memberikan saran aneh, dan mengacaukan segalanya.”

“Kamu pikir cuma itu? Coba dengar yang ini. Bla bla bla…”

“Hei, bagaimana kalau kita makan bersama dan membicarakan itu. Itu akan menyenangkan.”

Hal itu menyenangkan karena seolah membentuk persamaan yang menyatukan Anda. Memiliki musuh bersama.

Orang konstruksi punya istilah ‘bad mud’. Artinya campuran lumpur yang buruk. Jika bahan dasar batu-bata jelek, maka begitu ditekan akan patah. Hal yang sama terjadi dengan “bad mouth”. Itu adalah “bad mud”. Suatu saat tampaknya seperti menyatukan Anda, tapi bila ada tekanan dalam hubungan itu, maka hubungan akan rusak.

Ada satu orang namanya Ben. Dia proaktif. Hidupnya tidak ditentukan oleh kelemahan sang pemimpin. Dia sadar akan hal itu.

Tapi hal itu ada di luar kontrolnya. Di luar lingkar pengaruhnya. Jadi ia banyak tersenyum. Dia tidak membuat dirinya lemah. Dipakainya kekuatannya untuk menutupi kelemahan Sang CEO, di dalam kontrolnya, yaitu terhadap bawahannya. Ia sangat kuat, cerdas, berani, dan tabah.

Ia berusaha mencapai dan memahami hal yang menjadi kekuatan Sang Pemimpin. Sehingga di areanya, kekuatan Sang Pemimpin muncul, dan kekuatannya sendiri dipakai untuk mengatasi kelemahan Sang Pemimpin.

Dia melakukan banyak inisiatif. Dia juga diperlakukan sebagai pesuruh. Lakukan ini, lakukan itu. Tapi dia pesuruh yang terbaik. Dia tidak saja mencari data, tapi juga mengantisipasi kebutuhan. Sang CEO pun senang membawanya hadir di rapat direksi.

Ia memberi data, analisis, dan rekomendasi berdasar analisis itu. Ia susun langsung dalam bentuk file presentasi.

Sang Pemimpin berkata, “Luar biasa si Ben ini. Mengagumkan, lihat apa yang dilakukannya. Saya minta dia melakukan ini, dia mengantisipasi kebutuhan saya. Dia menganalisisnya, mengembangkan beberapa alternatif, lalu dia sarankan satu, dan saya tinggal menyampaikannya ke dewan direksi. Saya pikir saya akan percayakan beberapa proyek padanya.”

Rapat berikutnya, pemimpin berkata pada yang lain, “lakukan ini, lakukan itu, lakukan ini, lakukan itu.” ketika sampai pada  Ben, CEO itu bertanya, “Ben, bagaimana menurutmu?”

Apa yang akan dibicarakan orang lain di kantin menurut Anda? Orang reaktif selalu mencari alasan.

“O, sudah mulai ada pilih kasih di antara kita.”

Tapi, Ben memperlakukan mereka sama seperti pelayanannya pada sang Pemimpin. Dalam waktu empat tahun, Ben naik jadi orang nomor dua di organisasi itu. Lingkar pengaruhnya semakin membesar. Bahkan pemimpin tidak akan mengambil keputusan penting tanpa persetujuan Ben.

Ben memahami budaya sekelilingnya. Sehingga kelemahan gaya sang pemimpin, ditutupi oleh kekuatannya dalam memahami sekitarnya, sehingga pertimbangan dan keputusan pemimpin dan cara mewujudkan visinya semakin diperkuat. Luar biasa.

Source: http://www.donnihw.com/

]]>
https://www.lgi.co.id/en/mengurus-hal-yang-bisa-diurus/feed/ 0
Berhenti Mencari Jati Diri Anda Dalam Pekerjaan https://www.lgi.co.id/en/berhenti-mencari-jati-diri-anda-dalam-pekerjaan/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=berhenti-mencari-jati-diri-anda-dalam-pekerjaan https://www.lgi.co.id/en/berhenti-mencari-jati-diri-anda-dalam-pekerjaan/#respond Tue, 27 Sep 2016 08:16:54 +0000 http://www.lippoinsurance.com/en/berhenti-mencari-jati-diri-anda-dalam-pekerjaan/ Kejernihan kerap berkunjung tanpa diduga, dan jarang menetap lama. Terlebih bila menyangkut siapa diri kita sebenarnya.

Pada suatu pagi di musim dingin yang lalu, saya sedang melamun di atas lift khusus untuk bermain ski, separuh menikmati memandang Jen dan anak-anak kami dibawa ke atas gunung, dan separuh mengkhawatirkan mengenai sebuah kalimat yang terus melintas di benak saya.

Paginya, saya bangun lebih awal setelah semalaman menulis untuk mengejar deadline, dan saya tidak sepenuhnya tergugah oleh kopi ataupun mentari pagi.

Realisasinya mendapati saya dengan tepat di sana. Terikat pada keluarga, pekerjaan, dan pada seutas kabel yang perlahan menarik saya ke atas dengan sebuah mesin yang letih. Ia mengenai saya dengan kejelasan mutlak. Perasaan bahwa keadaan tak tenang, grogi, mengasihi, khawatir, sporty ini adalah diri saya.
Diri saya yang sejati, maksud saya. Siapa saya yang sebenarnya.

Saya merasa lega, ada perasaan akan penyelesaian. Tak perlu lagi mencari jati diri saya. (Setidaknya untuk sementara)

Lalu semuanya memudar dan saya menjalani hari yang membosankan.

Tiga ribu tahun telah berlalu semenjak tulisan “Kenali dirimu” diukir di pintu gerbang kuil Apollo di Delphi. Lima abad semenjak Shakespeare memberi Polonius “Jadilah dirimu yang sebenarnya.” Tetapi akhir-akhir ini, di banyak tempat, kita tidak berpaling memohon bantuan kepada agama ataupun literatur. Petualangan untuk kemawasan diri dan otentitas membawa kita ke tempat lain. Kita diarahkan untuk mencari dan mengekspresikan diri kita yang sebenarnya dalam pekerjaan.

Saya meluangkan hidup saya dengan orang-orang eksekutif, mahasiswa, kenalan, sahabat, dan kolega yang khawatir dengan jati diri mereka yang sesungguhnya. Terkadang, terobsesi olehnya. Banyak yang tidak merasakan kehadirannya, dan menginginkannya. Beberapa skeptis bahwa hal itu ada.

“Saya datang ke sini untuk menemukan diri saya”, Saya telah mendengar banyak manajer menjelaskan demikian saat mereka ditanya mengapa mereka mengikuti kelas MBA atau executive course, atau mengambil pekerjaan baru. Ini merupakan sebuah ambisi baru yang sering dikutip orang yang menjadi founder, partner, MD atau CEO.

Ini banyak terjadi pada para manajer yang ada di pertengahan karir, yang seringkali merasa bahwa kenyamanan materi, gelar dan pencapaian telah membuat mereka mengabaikan jati diri mereka. Tetapi saat mereka memutuskan untuk berhenti mengabaikannya, usaha-usaha introspeksi dan berelaksasi ternyata tidak terlalu menghasilkan. Diri mereka yang sejati tidak juga ditemukan.

Diri sejati bukanlah mendambakan waktu yang telah hilang. Ia mendambakan waktu kita. Pertanyaannya adalah mengapa ia terasa begitu memikat dan samar.

Ketidakstabilan dalam dunia bisnis – dimana kita diharapkan untuk menemukan, membentuk dan memenuhi, bukannya dilahirkan menjadi siapa kita saat ini- menciptakan lebih banyak kesempatan, bagi banyak orang, untuk membentuk
Karir dan arah hidup lebih dari yang kita miliki sebelumnya.

Ketidakstabilan yang sama pula yang hanya memberi kita sedikit petunjuk dan arahan. Ini membuat pencarian jati diri menjadi lebih penting, petualangan mencari titik orientasi yang mungkin dapat menghentikan kita dari tersesat dalam usaha beradaptasi dengan demand yang berubah-ubah.

Dalam abad yang penuh komitmen yang longgar, perubahan yang konstan, dan profesionalisme yang nomaden, jati diri yang sejati menghadirkan ilusi mengenai kepastian, komitmen, dan arah. Penemuan diri adalah tugas yang baru, hanya mengarah kedalam diri.

Ini jauh dari yang Donald Winnicott (seorang psikoanalis dari Inggris) maksudkan saat ia pertama kali memperkenalkan gagasan bahwa kita memiliki “jati diri yang sejati”. Dan mungkin ini alasannya kita takkan pernah menemukannya.

Seperti menurut Winnicott, jati diri sejati adalah sebuah anugerah dan juga kejutan. Ia adalah suatu keadaan yang dimungkinkan dengan mempedulikan orang lain yang memberi kita kedamaian cukup lama bagi kita untuk memperhatikan dan mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan dan harapan-harpan kita saat ini, dan merespon kita dengan baik.

Anak-anak yang mendapatkan perawatan yang tulus dan responsif, Winnicott mengamati, merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri mereka dan mengeksplorasi lingkungannya. Mereka yang tidak mendapatkannya, akan mencari petunjuk dari yang lain.

Yang disebutkan pertama, ia mengatakan, lebih mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang mempercayai dirinya dan orang lain, dan mampu bersikap spontan saat lingkungan memungkinkan – sebuah insight yang sekarang dikonfirmasi oleh riset puluhan tahun terhadap attachment style.

Dalam perjalanan dari tempat perawatan balita ke tempat kerja, bagaimanapun, konsep jati diri sejati telah menjadi populer dan berbeda secara drastis. Kita tidak hanya telah membawanya ke konteks yang bebeda. Kita telah mengeluarkan konteks dari hal tersebut. Jati diri sejati telah berubah dari sebuah anugerah menjadi sebuah pencapaian, dari sebuah pengalaman singkat akan kemungkinan menjadi sebuah gambaran yang awet mengenai siapa diri kita.

Kemawasan diri telah menjadi sebuah padanan akan keselarasan, istilah lain dari menjadi peduli akan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. Otentitas telah menjadi padanan untuk konsistensi, sebuah istilah yang dipahami sebagai bertindak seragam dalam domain-domain berbeda. Dan kita telah melihat jati diri sejati lebih sebagai sebuah berlian ketimbang sebuah bibit. Tidak lagi sesuatu yang dipelihara seiring waktu, dan lebih sebagai batu berharga yang tersembunyi di dalam, yang suatu saat akan tergali, dipoles dan dipajang untuk menjadi simbol status dan sumber nilai pasar – selama kita bisa bertahan padanya.

Dikerdilkan menjadi sebuah image, jati diri sejati menjadi tak lebih dari sebuah selfie, sebuah gambaran yang dibuat untuk memuji diri kita sendiri dan membuat orang lain kagum. Image seeperti demikian jarang yang terasa sebenar-benarnya, bilapun terasa benar ia tidak akan bertahan lama.

Karena kesejatian diri kita tidak ditentukan oleh seberapa akurat, seberapa awet atau seberapa menyenangkan terasanya, tetapi oleh kemerdekaan dalam mengeluarkannya. Ia tidak berdiam pada sebuah gambaran, tetapi pada kemungkinan untuk menjadi spontan dan terkejutkan, tidak mengenali diri sendiri
dan memiliki ruang untuk mencaritahu diri kita.

Dilihat seperti demikian, jati diri sejati tidaklah awet ataupun konsisten. Ia terus berubah. Ia bukanlah suatu tujuan akhir, melainkan sebuah permulaan. Ia dapat ditemukan tetapi tidak dapat dipertahankan. Ia tidak selalu terasa baik, dan bukannya ditemukan atau diciptakan, melainkan dibebaskan. Kita tidak mengenalinya saat kita melihatnya. Kita merasakannya saat kita dapat melupakannya.

Pekerjaan yang memberikan kita kesenangan , atau yang dipuji orang lain, mungkin adalah ekspresi dari jati diri sejati. Tetapi ia bukan jati diri sejati itu sendiri. Saat kita kira demikian, kita terperangkap olehnya.

Inilah mengapa saya kerap menyarankan mereka yang mendambakan menjadi jujur pada diri sendiri untuk berhenti bertanya pada diri mereka mengenai siapa dirinya, dan merenungkan di mana mereka merasa lebih bebas dan siapa yang akan membantu mereka mengelola perasaan campur aduk yang mengikuti kebiasaan itu.

Karena pada akhirnya, kita membutuhkan kasih sayang yang kuat untuk bisa jujur pada diri sendiri. Tanpa mengasihi orang lain, kemerdekaan akan terasa membingungkan, tak tertahankan, atau keduanya – dan kegelisahan segera mengambil alih.

Walau feedback mungkin bisa memperteduh otentitas kita, kasih sayanglah yang membebaskan kita. Jenis kasih sayang yang membantu kita berhenti berobsesi, dan tidak membiarkan kita menyerah pada diri sendiri.

Sumber         : The Daily Alert from Harvard Business Review
Dikutip dari : Business Growth

]]>
https://www.lgi.co.id/en/berhenti-mencari-jati-diri-anda-dalam-pekerjaan/feed/ 0
Belajar 6 Cara Dan Tips Sukses Dari Lebah https://www.lgi.co.id/en/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah https://www.lgi.co.id/en/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah/#respond Tue, 27 Sep 2016 07:01:37 +0000 http://www.lippoinsurance.com/en/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah/ Belajar 6 Cara Dan Tips Sukses Dari Lebah

Lebah adalah salah satu hewan yang memiliki keunikan tersendiri. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari seekor lebah yang merupakan hewan yang memiliki banyak manfaat. Lalu, apa saja yang bisa kita pelajari dari kehidupan lebah? berikut penjelasan mengenai bagaimana kita bisa belajar dari lebah dikutip dari Merdeka.com.

Cukup berdiri di depan sarang lebah dan mengamati makhluk pekerja keras itu, maka Anda akan mendapatkan pelajaran hebat tentang bagaimana menjadi sukses. Percaya tak percaya, itulah yang dikemukakan oleh seorang profesor di Tamil Tandu Agricultural University Dr. N Ganapathy

Menurutnya, dengan mengadopsi etika bekerja lebah, seorang pekerja, bahkan perusahaan, bisa mendapatkan kesuksesan besar. Apa saja pelajaran yang bisa dipetik dari cara kerja lebah? berikut penjelasannya:

  1. Pembagian Tugas

Lebah memiliki lingkungan sosial yang terstruktur. Masing-masing lebah memiliki peran dan jobdesk masing-masing, serta menguasai perannya dengan baik. Secara genetik mereka diprogram untuk tidak menyalahi wilayah yang bukan merupakan wewenangnya. Jika seorang pekerja mampu mengetahui perannya dalam perusahaan dengan baik dan menguasai peran tersebut, maka kinerjanya akan meningkat dan perlahan mengantarkannya pada kesuksesan. Begitu juga jika perusahaan mampu menerapkan hal ini, maka tak akan ada konflik peran.

Meski memiliki peran berbeda-beda, kawanan lebah hanya memiliki satu tujuan yang sama. Begitu juga dengan perusahaan. Pemimpin harus mampu menjabarkan tujuan profesional secara jelas, sehingga para karyawan dengan berbagai macam peran bersama-sama melangkah, untuk satu tujuan pasti dimasa depan.

  1. Semangat Kerjasama

Kerja sama bagi lebah lebih penting dibandingkan dengan kompetisi. Tak seperti yang ada saat ini, dunia kerja sarat akan kompetisi, terutama pada perusahaan yang besar dan aktif. Banyak yang paranoid, seolah kedudukannya akan tergeser jika tak berkompetisi. Namun tidak bagi lebah. Mereka tahu bahwa mereka tak mungkin bisa mencapai tujuan seorang diri, sehingga mereka bekerja sama dan hidup secara rukun dengan rekannya.

Begitu juga dengan karyawan dan perusahaan. Menyatukan pengetahuan dan pengalaman, serta saling bekerja sama akan membuat pekerjaan menjadi efektif. Tak ada konflik yang terjadi. Masing-masing orang menghormati kontribusi dan peran dari rekannya.

  1. Setia

Loyalitas adalah kunci kelangsungan hidup jangka panjang. Lebah setia terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Jika mereka membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil madu dari satu bunga, maka mereka akan melakukannya terus-menerus. Pekerja yang baik juga harus setia pada pekerjaannya. Tak mudah berpaling dan tekun. Begitu juga karyawan yang bekerja untuk perusahaan harus setia terhadap aturan, seperti jam kerja.

  1. Bekerja Keras

Pernah melihat lebah madu bekerja? Lebah yang sedang bekerja akan terus-terusan bekerja dengan giat, seolah-olah nasib kawanannya sedang dipertaruhkan di tangannya. Tak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa kerja keras dan ketekunan. mereka yang bermalas-malasan hanya akan semakin tertinggal dan tergeser oleh yang bekerja keras. Bekerja keras juga berarti bekerja secara profesional dan efektif dalam penggunaan-penggunaan waktu kerja.

  1. Tepat Waktu

Ketepatan waktu adalah etika profesional umum yang tak jarang dilanggar oleh semua orang. Bagi lebah, tak boleh ada kata terlambat. Mereka bergantung pada matahari saat mencari makan, sehingga lebah akan berangkat ketika matahari terbit dan pulang saat matahari terbenam. tepat waktu adalah cara lebah untuk mendapatkan hasil optimal.
Begitu juga bagi pekerja atau karyawan perusahaan. Tepat waktu juga akan memberikan hasil optimal karena pekerja menggunakan waktunya dengan efektif. Selain itu dengan tepat waktu, Anda tak akan mengalami stres karena terlambat.

  1. Kewajiban dahulu, baru Hak

Bagi lebah, kepentingan kawanannya adalah yang harus diutamakan terlebih dahulu, baru kemudian kepentingan pribadinya. Mereka bekerja mengambil madu untuk kepentingan kawanan. begitu juga dengan lebah yang bertugas menjaga sarang, semuanya dilakukan demi kepentingan kawanan. Mungkin terlihat tak menyenangkan karena harus banyak berkorban.

Source: http://inmotivasi.blogspot.co.id/2014/08/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah.html 

]]>
https://www.lgi.co.id/en/belajar-6-cara-dan-tips-sukses-dari-lebah/feed/ 0
4 Steps to Dispel a Bad Mood https://www.lgi.co.id/en/waspada-virus-zika-2/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=waspada-virus-zika-2 https://www.lgi.co.id/en/waspada-virus-zika-2/#respond Tue, 27 Sep 2016 06:37:46 +0000 http://www.lippoinsurance.com/en/waspada-virus-zika-2/ 4 Steps to Dispel a Bad Mood

Anda tahu Anda berada dalam suasana hati yang buruk. Anda tahu itu mengurangi kinerja Anda di tempat kerja. Tapi bagaimana Anda keluar dari itu?

Kami menyelidiki bagaimana 740 pemimpin mencoba untuk memecahkan masalah ini untuk diri mereka sendiri, dan kami menyajikan praktik terbaik mereka dalam artikel HBR sebelumnya. Tetapi ketika kami melihat lebih seksama, kami menemukan bahwa banyak dari para profesional mendapatkan hasil yang beragam ketika mereka menggunakan praktik-praktik ini secara terpisah atau jarang. Akibatnya, lebih dari setengah dari mereka tidak bisa mengubah pemikiran saat diperlukan.

Sudah jelas bahwa konsistensi dan kombinasi adalah kunci nyata untuk sukses. Setelah bertahun-tahun bereksperimen, kami telah menemukan bahwa satu langkah praktik dapat, bila dilakukan secara teratur, sangat meningkatkan kemampuan seorang pemimpin untuk beranjak ke keadaan pikiran yang produktif yang kami sebut sebagai CHE – Calm, Happy and Energized (tenang, bahagia dan bersemangat). Kami menyebutnya the 4-Step Reset:

  1. Libatkan Pernapasan

Pernapasan dapat membantu Anda mencapai kondisi fisiologis yang disebut koherensi, yang mengarah ke peningkatan kejernihan mental, fokus, kestabilan emosi, dan pengambilan keputusan. Selama koherensi, simpatik (mempercepat) dan parasimpatis (memperlambat) cabang sistem saraf otonom bekerja timbal balik. Ketika ini terjadi detak jantung kita mengikuti pola yang sama-ia mempercepat dan kemudian melambat. Bernapas lebih lambat dan lebih dalam dengan laju yang konstan dapat membantu menginduksi koherensi karena ketika kita hirup, detak jantung kita meningkat dan ketika kita menghembuskan napas ia berkurang, sehingga membantu sistem saraf kita mencapai keseimbangan ini.)

Lisa Kelly Croswell, wakil presiden untuk sumber daya manusia di Boston Medical Center, sering menggunakan pernapasan koheren di tempat kerja untuk kembali fokus. “Ini membebaskan kapasitas otak saya untuk berpikir jernih dan membuat berbagai jenis keputusan yang lebih cepat,” jelasnya. “Ini mengeluarkan semua kebisingan dan stress saya.

  1. Aktifkan Perasaan Positif

Dengan melibatkan pernafasan, mulailah diam-diam fokus pada orang, tempat, atau hal yang benar-benar Anda hargai dan / atau syukuri. Pastikan Anda mengaktifkan perasaan yang sebenarnya, yang diperoleh dari dalam diri Anda, sehingga Anda bisa mengalaminya kembali. Pertimbangkan untuk menggunakan isyarat visual dan taktil (misalnya foto, gambar, obyek spesial, surat) dan rangsangan eksternal seperti alam dan musik dan untuk memperdalam perasaan. Idenya adalah untuk merangsang pelepasan zat kimia saraf, seperti dopamin dan serotonin, dan hormon, seperti oksitosin. Ini secara kolektif dapat meningkatkan mood dan pandangan kita, dan membantu kita tetap waspada, penasaran dan fokus.)

Megan Griffault, direktur HR global untuk FMC Agricultural Solutions menggambarkan langkah ini sebagai “mengambil waktu sejenak untuk memasuki perasaan positif atau apresiasi.” Ketika dia melakukannya, menurutnya dia bisa melakukan pendekatan terhadap situasi dan masalah “dari keadaan pikiran yang lebih subjektif dan tenang, yang hampir selalu menghasilkan hasil yang lebih baik.

  1. Pemikiran Reframe

Berikutnya, tanyakan pada diri Anda satu atau lebih pertanyaan untuk menilai pemikiran Anda saat ini dan membantu Anda memutuskan apakah pemikiran yang berbeda mungkin akan lebih bermanfaat dalam situasi Anda saat ini.

Berikut adalah beberapa saran:

  • Hal lain apa yang memungkinkan?
  • Kesempatan apa yang ada dalam situasi ini?
  • Apa yang benar-benar penting sekarang?
  • Apa yang bisa saya pelajari pada saat ini?
  • Apa yang hati saya katakana? Apa yang nyali saya katakana?
  • Apa pendekatan yang lebih berguna /konstrukstif/positif?
  • Apa yang paling diinginkan?

Jim O’Connor, Wakil Presiden Timberland PRO menggambarkan dirinya sebagai pemimpin optimis yang kadang-kadang tergelincir kedalam pemikiran negatif. Ketika itu terjadi, dia menantang dirinya dengan ini dan pertanyaan lainnya: “Dua langkah reset pertama telah menjadi otomatis. Tapi kemudian saya secara sadar melihat pemikiran saya sehingga saya bisa mengubahnya dan menjaga pikiran saya dalam keadaan yang positif.

  1. Libatkan Ulang Tindakan

Dengan pernapasan terlibat, perasaan positif diaktifkan, dan pikiran yang terpola ulang muncul kembali, langkah keempat adalah untuk kembali terlibat dengan sikap baru dan perilaku dan mungkin tindakan yang berbeda.

Proses ini lebih mudah dijelaskan daripada dilakukan. Ini membutuhkan waktu dan latihan untuk menguasai kemampuan untuk mengubah keadaan pikiran Anda dan membuat perubahan yang berkelanjutan dalam emosi, kata-kata, dan perbuatan Anda. Tapi, seperti yang Hilary Ware, senior vice president dari Bristow Group, Inc katakan, “Kunci untuk kepemimpinan yang kuat adalah memahami bahwa kinerja terkait dengan keadaan yang jelas dan pikiran yang seimbang.” Reset 4 langkah adalah cara sederhana untuk membantu merombak kebiasaan buruk Anda, beranjak ke ketenangan, kebahagiaan, dan energi yang lebih besar, dan menjadi lebih efektif sebagai hasilnya.

 

Sumber       : The Daily Alert from Harvard Business Review

Dikutip dari : Business Growth

]]>
https://www.lgi.co.id/en/waspada-virus-zika-2/feed/ 0